Minggu, 22 Februari 2009

Menjadi - Melakukan - Mempunyai


Alih fungsi SMA ke SMK membawa konsekuensi perubahan yang tidak sederhana. Proses 'menjadi' ini harus dipahami sungguh oleh semua elemen. Lebih-lebih untuk Kepala Sekolah yang baru, yang harus menjadi motor penggerak perubahan dan peralihan. Ia harus memahami bahwa 'menjadi' SMK itu tidak sekedar 'melakukan' hal-hal yang dilakukan oleh mereka yang mengelola SMK. Proses 'menjadi' ini berarti mulai dari cara berpikirnya, yang akan mempengaruhi cara bertindak. 'Menjadi' kepala sekolah tidak sama dengan hanya sekedar melakukan apa yang biasa dilakukan kepala sekolah. Ini salah satu yang akan kulakukan, membantu semua untuk menyadari bahwa alih fungsi itu berarti perubahan yang menyentuh ke level 'menjadi' sehingga SMK yang baru bukan hanya SMA lama yang diberi nama SMK.

Rabu, 18 Februari 2009

Finding God in All Things



Tidak ada yang lebih istimewa dari acara pelantikan Kepala Sekolah SMK dan Kepala Unit Produksi SMK Ignatius Slamet Riyadi, Surakarta, kecuali bahwa Dia hadir di situ memberikan tugas dan harapan. Kehadiran-Nya begitu nyata di wajah-wajah semua yang datang,wajah-wajah yang penuh harapan dan iman akan sesuatu yang lebih baik. Ada damai di situ. Ada kepercayaan, ada cinta kasih, ada kesediaan, ada kesiap-sediaan. Tuhan Yesus yang bangkit meneguhkan panggilan kami. Ia hadir dalam segala sesuatu dan kita diajak melihat segala sesuatu dalam konteks kehadiran-Nya. AMDG

Senin, 16 Februari 2009

Sedikit Mengenai SMK Grafika

Sejarah Singkat

Yayasan “Slamet Riyadi” didirikan pada tahun 1949 untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam mengembangkan dunia pendidikan oleh para tokoh awam Katolik di kota Surakarta. Mereka itu adalah Remigius Gabriel Soekadijo, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, Dionysius Adisoedjana, Raden Ignatius Soenarto Hardjosoemarta, Raden Emmanuel Soeharlan Bratawijata, Raden Petrus Slamet Poedjowardojo dan Raden Ignatius Sudjasman Widyaparmaka. Mereka sepakat untuk mendirikan sebuah Yayasan yang berorientasi di bidang pendidikan dengan nama “Yayasan Slamet Riyadi”.

Pada awalnya mereka menyelenggarakan Sekolah Menengah Atas “Kanisius Petang”. Mula-mula SMA ini menampung anggota masyarakat yang sudah bekerja tetapi belum memiliki pendidikan formal setingkat pendidikan menengah atas. Dalam perjalanan selanjutnya sekolah menerima semua lulusan dari pendidikan tingkat SLTP. Nama “Kanisius Petang” dipakai karena beberapa alasan situasional pada saat itu. Pertama, untuk urusan dengan pemerintah dan berkaitan dengan subsidi dari pemerintah berupa guru-guru PNS, Yayasan Slamet Riyadi menginduk dan bernaung di bawah Yayasan Kanisius. Kedua, untuk melaksanakan program belajar mengajar, SMA Kanisius Petang, memakai gedung SLTP Kanisius I, Kusumoyudan, Surakarta. Ketiga, proses belajar mengajar dilaksanakan pada sore hari setelah kegiatan belajar SLTP selesai, maka disebutlah nama “Petang”.

Pada tanggal 1 Mei 1960 Yayasan Slamet Riyadi mendapat kepercayaan dari masyarakat Katolik di Boyolali untuk mengelola Sekolah menengah pertama yang bernama SMP Katolik Slamet Riyadi yang sebelumnya dikelola oleh Yayasan PGPM di Kabupaten Boyolali. SMP ini masih berjalan dengan baik hingga saat ini.

Sejak tahun 1976 Yayasan Slemat Riyadi sudah memiliki gedung baru di Kebalen Tengah No. 3, Surakarta, dan seluruh kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada pagi hari, namun pemakaian nama “Kanisius Petang” masih berlangsung hingga tanggal 9 September 1999 pada saat Yayasan memutuskan untuk mengganti nama SMA Kanisius Petang menjadi SMA KATOLIK IGNATIUS SLAMET RIYADI Surakarta. Dua tahun sebelumnya tepatnya tanggal 1 Juli 1996 Yayasan Slamet Riyadi secara resmi tidak lagi bernaung di bawah Yayasan Kanisius.

Dengan pertimbangan banyak anggota masyarakat di Indonesia yang menggunakan nama “Yayasan Slamet Riyadi” maka sejak tanggal 24 Juli 2008 Yayasan Slamet Riyadi merubah nama menjadi “Yayasan Ignatius Slamet Riyadi Surakarta”. Dalam rangka ikut berpartisipasi di bidang pendidikan kejuruan yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah khususnya Departeman Pendidikan Nasional, serta pencanangan Kota Surakarta sebagai kota Vokasi, Yayasan Ignatius Slamet Riyadi memutuskan untuk mengalihfungsikan pendidikan SMA menjadi SMK. Bidang keahlian yang dipilih adalah bidang keahlian grafika. Untuk itu mulai tahun ajaran 2009 – 2010 Yayasan sudah mulai menerima siswa baru untuk SMK Ignatius Slamet Riyadi.

SMK model ini akan lebih maju jika unit produksi atau bengkel praktek siswa dikelola terpisah oleh management yang terpisah dari sekolah. Artinya managemen bidang produksi di bawah langsung Yayasan dan berfungsi untuk menghasilkan uang dan untuk praktek industri langsung. Aku kebagian untuk mengurusi bagian produksi ini dengan harapan bisa menopang pembiayaan sekolah dan kesejahteraan seluruh karyawan. Karena aku juga anggota pengurus Yayasan maka aku juga berfungsi untuk membina semua karyawan khususnya di bidang spiritualitas Ignatian mengingat Yayasan dan Sekolah berlindung di bawah St. Ignatius Loyola.

Selasa, 20 Januari 2009

Transisi

Sudah dua minggu aku kerja kantoran lagi. Rasanya kok lebih capek daripada kerja di rumah melayani pembeli ikan. Kalau dilihat dari kegiatannya, secara fisik kerja di rumah jauh lebih berat.Tapi badan malah sehat. Kerja di Percetakan SMK lebih banyak mikir dan duduk menatap layar komputer, hasilnya badan mudah pegal-pegal dan masuk angin. Penyesuaian lagi dah...

Rabu, 07 Januari 2009

SMK IGNATIUS SLAMET RIYADI

Aku mulai aktif full timer di SMK Grafika pertama di SOLO sejak hari Senin, 5 Januari 2009. Aku mulai membangun "pondasi" unit percetakan dengan bersama-sama menggali visi-misi serta membangun hubungan antar personel agar terbentuk tim yang solid dan kepemimpinan yang kuat.

Minggu, 21 Desember 2008

Another Sign

Aku tak punya cukup alasan untuk menghindari tugas ikut terlibat langsung dalam mendirikan SMK Grafika Ignasius Slamet Riyadi. Dilihat dari sudut pandang pembangunan bisnis pribadi, ini berarti aku mundur beberapa langkah. Aku harus 'bekerja' lagi dengan batasan-batasan waktu dan dihargai karena memberikan waktu itu. Tapi kalau dilihat dengan kacamata panggilan hidupku, ini sesuatu yang tak mungkin aku melarikan diri. Aku sudah dipersiapkan sekian lama untuk tugas-tugas macam ini. Mendirikan unit produksi percetakan di Solo bukan hal mudah tapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Aku bagian dari Yayasan dan Yayasan memintaku untuk menangani unit ini, maka aku tidak akan lari dari tugas ini. Ini tanda lain dari bagaimana Allah tetap akan terus mengejarku sampai mana pun dan kapanpun. So, aku terima ini atas nama AMDG.

Selasa, 09 Desember 2008

Life Begins at Forty

Life Begins at Forty. Ini tentu bisa diartikan dengan seribu makna. Sejak dalam kandungan ibuku hidupku dimulai atau mungkin malah sejak sebelumnya entah kapan ketika hidupku ada dalam daftar rencana Allah. Yang jelas aku ada dan dimulai pada suatu titik. Aku percaya titik dimulainya kehidupanku itu bukan pada saat aku dilahirkan tanggal 8 Desember 1968 yang lalu. Entah kapan itu dimulainya, jejak-jejak sejarah hidupku mulai terlukiskan di tempat-tempat yang pernah aku diami atau lewati. Aku sudah tidak terbiasa melukiskannya dengan kata-kata pujian indah tapi memang ada setumpuk rahasia hidupku yang terekam dalam-dalam dalam setiap tempat yang pernah aku singgahi.

Tiap kali aku sampai pada tanggal 8 Desember, sejenak aku akan melihat bentangan liku-liku dan terang gelapnya perjalanan hidupku, perjalanan tubuh ragawiku dan perjalanan jiwa rohaniku. Sering terlintas aku menuliskan itu semua dengan judul "The Truth about Me". Rentetan kenyataan dan kebenaran tentang aku yang tidak semua orang mampu untuk menerimanya. Menerima dengan damai kenyataan tentang aku yang memang penuh dengan paradoks. Itu bisa tentang cinta, makna cinta dan mencintai yang aku hayati. Itu bisa tentang pribadi-pribadi yang ada di dalam hidupku. Itu bisa tentang bagaimana Allah membentuk aku dengan jalan panggilan yang sangat khusus. Itu bisa tentang apa aja yang ada yang pernah aku alami.

Orang bilang hidup dimulai pada umur 40. Aku sudah memulainya dan akan memulianya lagi dan lagi. Kali ini aku memulai dengan paradoks baru. Rencana hidupku begitu jelas tapi pada saat yang sama juga begitu gelap. Satu-satunya cara menjalaninya adalah dengan penuh iman dan penyerahan pada yang punya keseluruhan rangkaian hidupku. Paling tidak aku masih merasakan rahmat untuk mencintai yang masih sungguh indah. Dan ini akan selalu menjadi misteri dan rahasia hidup yang hanya diketahui oleh kesadaranku dan tentu saja diketahui oleh Allah yang maha tahu.

Sepuluh tahun yang lalu jiwaku masih selalu resah ingin menemukan belahannya. Kini ketika aku sudah pernah merasakan bertemu dengan belahan itu, aku semakin yakin bahwa bukan menemukan belahan jiwa itu tujuan aku ada di dunia ini. Menjalankan rencanaNya itu yang terutama dan jiwaku akan menemukan kepenuhannya hanya oleh kehadiran cintaNya.